Menjelang Pagi
Menjelajah ruang tanpa warna
Walau sedikit rona, namun tampak hilang ditelan gulita
Hanya lampu-lampu merkuri dan rembulan yang tersenyum
Sedikit demi sedikit...
Dengan terseok-seok kami jalani
lelah dan letih hanyalah pemupus mimpi
Hanya kobaran semangat,
yang dapat hidupkan hati, gerakkan raga...
Lengang tampak jalan itu...
Ketika satu persatu dari kami mulai menujunya
Terdengar sayup derap-derap mujahid
Namun lama-lama lenyap...
Tertelan jarak...
Menatap lurus ke arahnya
Terlintas dalam benakku
Ingin lekas sampai di sana
Terlalu terburu, tapi...
Aku takut, aku takut takkan pernah sampai
Begitu suasana itu mewarnai hariku
Di penghujung jalan kami di waktu itu
Tempat nan luas... lagi-lagi lengang
Aku takut, takut takkan pernah sampai
Karena khawatirku...
Ini adalah ujung perjalananku..
created by saudariku, InterNay
sapaanqu
Assalammu'alaykum... teman2 :>
Selasa, 07 Agustus 2012
Tertunduk Malu
Apakah dunia tertawa
melihat manusia berhambur hura
meramalkan jagat dengan kerlip dusta
seolah kan panjang abad terjaga
Apakah dunia tertawa
melihat anak Adam angkat senjata
debu mesiu menghias waktu
seolah kan panjang kuasa manusia
Apakah dunia tertawa
melihat penghuninya berharam mesra
Bernada riang melagukan nista
seolah kan panjang usia muda-belia
Apakah benar dunia tertawa???
seolah tertutup sudah mata dan telinga
entah hati masihkah terjaga
menyisakan tempat untuk ratapnya
Apakah benar dunia tertawa???
melihat penghuninya menebar dan menuai luka
pedih rasa, hancur luluh lantah
Menyenandung lagu selamat tinggal
Menghempas seluruh isakkan meluruh
di kala tatap memburu ke lain penjuru
dunia tidak tertawa....tidak tertawa...
ia mengais hampa, malu pada akhirat.
kala anak manusia menyalahkannya...
di usai menuai hasil kehidupan...
By My Saudari, Nay
melihat manusia berhambur hura
meramalkan jagat dengan kerlip dusta
seolah kan panjang abad terjaga
Apakah dunia tertawa
melihat anak Adam angkat senjata
debu mesiu menghias waktu
seolah kan panjang kuasa manusia
Apakah dunia tertawa
melihat penghuninya berharam mesra
Bernada riang melagukan nista
seolah kan panjang usia muda-belia
Apakah benar dunia tertawa???
seolah tertutup sudah mata dan telinga
entah hati masihkah terjaga
menyisakan tempat untuk ratapnya
Apakah benar dunia tertawa???
melihat penghuninya menebar dan menuai luka
pedih rasa, hancur luluh lantah
Menyenandung lagu selamat tinggal
Menghempas seluruh isakkan meluruh
di kala tatap memburu ke lain penjuru
dunia tidak tertawa....tidak tertawa...
ia mengais hampa, malu pada akhirat.
kala anak manusia menyalahkannya...
di usai menuai hasil kehidupan...
By My Saudari, Nay
Senin, 06 Agustus 2012
Cerpen ; rumah dalam impian
"Itu dia nak, ibumu.." ayah menatap mataku tajam. bagaikan mata pisau dapur yang kupakai untuk mengiris masakan setiap hari.adik kecilku menatap mataku. ada seiris sendu di wajahnya, gurat layu diwajahnya, juga di wajahku. Diah, adikku yang berumur 5 tahun, menggenggam bajuku. takut.
*****
"Yah, jangan manjat pohon tinggi-tinggi,nanti jatuh." Tiara,5 tahun, makan bersama ibu
*****
"Yah, jangan manjat pohon tinggi-tinggi,nanti jatuh." Tiara,5 tahun, makan bersama ibu
Langganan:
Komentar (Atom)